Tugas 2 (Dua)

Tugas no.1
Aplikasikan wawasan linguistik dalam RPP Bahasa indonesia jenjang SMK kelas XI dengan penekanan pada aspek kebahasaan.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

Indikator :
:
:
:
:

: Bahasa Indonesia
XI / 1
4 x 45 menit
Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat madya
Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan dan kalimat dalam konteks bekerja.
1. Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
2. Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan.
3. Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ ditolak) berdasarkan paradigma/ analogi.
4. Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan kaidah atau kelaziman

I. Tujuan Pembelajaran :
1. Peserta didik dapat mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
2. Peserta didik dapat mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
3. Peserta didik dapat mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma/analogi.
4. Peserta didik dapat mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan kaidah atau kelaziman
5. Peserta didik dapat mengartikan makna kata sesuai dengan teks.
II. Materi Ajar:
Kata-kata dalam bahasa Indonesia dikelompokkan berdasarkan: kelas kata, bentuk kata dan makna kata.
1. Pengelompokan kata berdasarkan kelas kata:
(1) Kata kerja (verba), (2) Kata benda (nomina), (3) Kata sifat (adjektiva), dan (4) Kata keterangan (adverbia), dan (5) Kata tugas meliputi kata depan (preposisi), kata sambung (konjungsi), dan partikel.

2. Pengelompokan kata berdasarkan bentuk kata:
(1) Kata dasar, (2) Kata berimbuhan, (3) Kata ulang, dan (4) Kata majemuk.
Setiap kata yang menjadi dasar pembentukan kata baru (kata turunan) disebut kata dasar. Kata turunan yang diturunkan dari kata dasar bisa berupa:
1) Kata berimbuhan (dibentuk dengan menambahkan imbuhan atau afiks ke kata dasarnya)
2) Kata ulang (dibentuk dengan mengulang kata dasarnya).
3) Kata majemuk (dibentuk dengan memadukan dua kata dasar atau lebih).

3. Pengelompokan berdasarkan makna kata:
1) Makna leksikal (makna kata secara lepas/menurut kamus),
2) Makna kontekstual (makna kata yang ditentukan oleh hubungannya dengan kata yang lain)
3) Makna gramatikal/struktural lazim juga disebut nosi (makna setelah mendapatkan imbuhan/afiksasi),
4) Makna denotatif (makna harfiah),
5) Makna konotatif (makna kias/tautan).
Dalam kaitannya dengan penggunaan makna kata kita mengenal sinonim dan antonim. Sinonim mengacu ke persamaan atau kemiripan makna, sedangkan antonim mengacu ke pertentangan atau oposisi makna, bukan ingkaran (negasi) makna yang dinyatakan dengan kata tidak atau bukan.
Dalam proses perkembangan bahasa Indonesia mengalami banyak penambahan kosakata. Penambahan kosakata ini disebabkan adanya proses asimilasi dan adaptasi dari kosakata asing. Selain itu juga karena hasil bentukan kata yang muncul berdasarkan paradigma dan proses analogi. Paradigma artinya mengikuti pola atau contoh yang sudah ada. Analogi artinya dengan membandingkan pola yang sudah ada.
Contoh pembentukan kata baru berdasarkan paradigma/analogi:

Jika proses di atas dikenakan pada kata lain dan menghasilkan bentukan serta makna yang sama, maka proses pembentukan kata di atas disebut pola pembentukan berdasarkan paradigma atau analogi.

Contoh pembentukan yang dipengaruhi oleh imbuhan asing, misalnya :
1) swa : swalayan, swaeseran, sembada.
2) –isasi : industrialisasi, modernisasi.
3) –al : industrial, kolonial.
4) –is : analisis, egois.
5) pasca : pascapanen, pascasarjana
Pergeseran makna, terjadi karena perkembangan ilmu, teknologi dan budaya masyarakat pemakainya. Pergeseran makan dapat bersifat: meluas, menyempit, konotasi positif/negatif, asosiasi dan pertukaran penginderaan.
a. Meluas, artinya : cakupan makna kata sekarang lebih luas daripada makna duhulu.
Contoh : bapak, ibu, saudara, adik, kakak
b. Menyempit: Cakupan makna sekarang lebih sempit daripada makna dahulu.
Contoh : sarjana, sastra
c. Ameliorasi, pergeseran makna yang kini memiliki nilai rasa lebih baik atau lebih terhormat.
Contoh:pramuwisma, pramuniaga, tunaaksara, tunasusila, tunanetra, lebih terhormat bila dibanding, pembantu, pelayan toko, buta huruf, pelacur, dan buta.
d. Peyorasi, kebalikan dari ameliorasi, pergeseran makna kata yang terkesan kurang sopan atau kurang terhormat.
Contoh: – mantan pejabat bergeser menjadi bekas pejabat
– perempuan bergeser menjadi wanita
e. Sinestesia, pergeseran makna kata karena adanya penginderaan yang dipertukarkan.
Contoh: – Banyak orang yang tersinggung karena mendengar kata-katanya yang pedas.
– Kedatangan artis ibukota mendapat sambutan dingin dari penonton.
Nilai PBKB & kewirausahaan yang diharapkan:
1) Gemar Membaca
2) Disiplin
3) Tanggung Jawab
4) Kritis
5) Kerja Keras
6) Jujur
7) Komunikatif
8) Kreatif

III. Metode Pembelajaran:
1) Metode reseptif dan Produktif

2) Metode Komunikatif :

: Peserta didik disajikan aneka bentuk perintah kerja
tertulis untuk dipahami dan menindaklanjuti
perintah tersebut dengan rencana kerja.
Peserta didik menyampaikan/mengkonfirmasikan rencana kerja kepada temannya.

IV. Kegiatan Pembelajaran:
Pertemuan pertama
1) Kegiatan Awal
a. Peserta didik Peserta didik menjawab pertanyaan guru tentang jenis-jenis surat yang telah dibahas pada pertemuan ke-8.
b. Peserta didik menyimak tujuan pembelajaran yang akan diberikan oleh guru.
2) Kegiatan Inti
a. Peserta didik disajikan sebuah wacana narasi yang berjudul “ Ramuan Jamu Pengusir Bau Kotoran Ternak” sehingga muncul sikap gemar membaca dan kreatif. (elaborasi)
b. Peserta didik membaca wacana dengan seksama sehingga muncul Peserta didik sikap gemar membaca.
c. Peserta didik mengelompokkan kata berdasarkan kelas kata sehingga muncul sikap tanggung jawab, kerja keras, gemar membaca, mandiri, dan kerja sama. (eksplorasi)
d. Peserta didik mengklasifikasikan kata berdasarkan bentuk kata sehingga muncul sikap kreatif, disiplin, mandiri, dan kerja sama. (eksplorasi)
e. Peserta didik mengelompokkan ungkapan dan makna kata sehingga terbentuk sikap mandiri, kerja keras, dan krtitis. (eksplorasi)
f. Peserta didik mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan sehingga terbentuk sikap kritis, kerja keras, disiplin, dan gemar membaca. (eksplorasi)
3) Penutup
Peserta didik menyampaikan / mengonfirmasikan hasil kerja kepada temannya dengan dipandu oleh guru. (konfirmasi)
Pertemuan kedua
1) Kegiatan awal
Peserta didik mendengarkan penjelasan guru mengulang pelajaran lalu dengan aktif menjawab pertanyaan yang disampaikan guru.
2) Kegiatan inti
a. Peserta didik disajikan deretan kata-kata bentukan yang problematis sehingga muncul sikap gemar membaca. (elaborasi)
b. Peserta didik dapat mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma/analogi sehingga timbul siap kritis, kerja keras, mandiri, jujur, dan mandiri.. (eksplorasi)
c. Peserta didik disajikan beberapa kalimat yang mengandung frasa sehingga sehingga muncul sikap kritis, kreatif. Mandiri, kerja keras, dan gemar membaca. (elaborasi)
d. Peserta didik dapat mengartikan makna frasa sesuai dengan teks sehingga muncul sikap kerja keras, mandiri, tanggung jawab, dan kreatif. (elaborasi)
3) Penutup
a. Peserta didik menyimpulkan hasil belajarnya dengan dipandu oleh guru.
b. Peserta didik mengerjakan evaluasi
V. Alat / Bahan / Sumber Belajar
a. Alat : Chart, bagan
b. Bahan : Contoh-contoh wacana
c. Sumber Belajar: Modul Bahasa Indonesia Tk Madia, EYD, Tim Depdiknas, Kamus Idiom, KBBI
VI. Penilaian
A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1. Pada waktu istirahat, Pak Hidayat memanggil Sapri ke kantornya.
Kata kerja pada kalimat di atas adalah ….
a. Istirahat d. Ke kantornya
b. Memanggil e. Pak Hidayat dan Sapri
c. Sapri

2. Saya kebingungan pagi ini, Ayah belum pulang dari Surabaya.
Kata keterangan pada kalimat di atas adalah ….
a. Kebingungan d. menjual
b. Saya dan ayah e. buah-buahan
c. Pagi ini dan Surabaya

3. Pasangan kata berikut yang tergolong sinonim ádalah ….
a. besar kecil d. suami istri
b. mati hidup e. suka duka
c. sudah telah

4. Pasangan berikut yang bukan tergolong antonim adalah ….
a. tua muda d. emas perak
b. berakhir selesai e. Tinggi rendah
c. panjang pendek

5. Kalimat berikut yang bermakna konotatif adalah….
a. PT Sukses mengajukan kerja sama dengan PT Bank BNI selama 3 tahun.
b. Karyawan perusahan itu selalu bekerja dengan giat.
c. Pergantian pimpinan baru membawa angin segar dalam perusahaan tersebut.
d. Pemimpin perusahaan ”Rahma” sedang mengadakan pertemuan dengan karyawannya.
e. Kantor itu sangat bersih dan rapi penataannya.

6. Kalimat berikut yang bermakna denotatif adalah ….
a. Perusahaan itu sedang pailit, sehingga banyak karyawan yang di PHK.
b. Jatuh bangunnya perusahaan itu menjadi sorotan publik.
c. Ayahnya membanting tulang di PT berdikari untuk mencukupi kehidupan keluarganya.
d. Kursi direktor sedang diperebutkan oleh orang-orang yang berkompeten.
e. Kursi direktor di kantor kami terbuat dari kayu jati.

7. kata-kata di bawah ini yang mengalami pergeseran makna meluas adalah ….
a. kembang d. pendeta
b. berlayar e. sarjana
c. bapak

8. Kalimat di bawah ini yang menggunakan kata yang mengalami perubahan makna peyorasi adalah ….
a. Dalam hal bernegosiasi dialah pakarnya.
b. Setelah mendapatkan kartu merah tiga kali berturut-turut, pemain itu diskors.
c. Wisatawan dari Jepang diantar oleh pemandu wisata yang telah berpengalaman.
d. Setelah tamat dari sekolah,ia bekerja sebagai pramuniaga di toko Roma.
e. Kemarin gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di kota dirazia oleh petugas penertiban.

9. Karyawan sebagai mitra kerja perusahaan harus diperhatikan kesejahteraannya.
Kata bercetak tebal dalam kalimat di atas mengalami perubahan makna….
a. peyorasi d. meluas
b. ameliorasi e. menyempit
c. sinestasia

10. Kalimat di bawah ini yang menggunakan kata yang mengalami perubahan makna ameliorasi adalah ….
a. Anak-anak tunarungu ditampung di SLB.
b. Banyak orang tersinggung mendengar kata-katanya yang pedas.
c. Sejak pindah ke tempat basah, tampak perubahan gaya hidupnya.
d. Sarjana sekarang bidang pekerjaannya lebih khusus dibandingkan sarjana zaman dahulu.
e. Suaranya lembut sewaktu menyanyikan ”Tenda Biru”.

Kunci jawaban
1. b 2. c 3. c 4. b 5. c 6. e 7. c 8. e 9. b 10. a
Pedoman Penilaian

Jumlah jawaban betul X 100 = Nilai
Jumlah soal

Soal no. 2
Rangkuman cakupan/pokok-pokok bidang morfologi dan sintaksis.
A. Morfologi
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk beluk bentuk serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik
Jenis-jenis Morfem
Berdasarkan kriteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem sebagai berikut (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139):
I. Ditinjau dari Hubungannya, pengklasifikasian morfem dapat kita lihat dari hubungan:
a. Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu: morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.
Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Perhatikanlah bentuk-bentuk berikut !
Betina
/mov εs/
/fos/
/bon/
/sod/
/ptit/ Jantan
/mov ε/
/fo/
/bo/
/so/
/pti/ Arti
buruk
palsu
baik
panas
kecil
Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan.

b. Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat dilihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).

II. Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siur yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang, tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem unik.

B. Sintaksis
1. Pengertian Sintaksis
Kata sintaksis berasaldari kata Yunani (sun = ‘dengan’ + tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.[8] Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan[9]. Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata.Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan kalimat. Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat.
Ramlan (1981:1) mengatakan: “Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase .”.

2. Kata sebagai Satuan Sintaksis
Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Maka di sini, kata, hanya dibicarakan sebgai satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword) dan kata tugas (funcionword). Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, ajektifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang yang berkategori preposisi dan konjungsi.[10]
3. Frase
a. Pengertian Frase
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi satah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.
Frase tidak memiliki makna baru, melainkan makna sintaktik atau makna gramatikal bedanya dengan kata majemuk yaitu kata majemuk sebagai komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna.
b. Jenis Frase
1) Frase Eksostentrik
Frase eksosentrik adalah frase yang komponen komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan¬nya. Misalnya, frase di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar. Frase eksosentirk biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif dan frase eksosentrik yang nondirektif.
2) Frase Endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, sedang komponen keduanya yaitu membaca dapat menggan¬tikan kedudukan frase tersebut.
3) Frase Koordinatif
Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh kunjungsi koordinatif.
4) Frase Apositif
Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua k komponenanya saling merujuk sesamanya, dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

4. Klausa
a. Pengertian Klausa
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada kom¬ponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar.”
Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat.
b. Jenis Klausa
Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas dalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat, dan karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.
Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial dan klausa preposisional. Dengan adanya berbagai tipe verba, maka dikenal adanya klausa transitif, klausa intransitif, klausa refleksif dan klausa resprokal.
Klausa ajektival adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektiva, baik berupa kata maupun frase. Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial. Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berkategori.
Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numerila. Klausa berupasat adalah klausa yang subjeknya terikat didalam predikatnya, meskipun di tempat lain ada nomina atau frase nomina yang juga berlaku sebagai subjek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: